Z

Romantisme Berkah

Muhammad ibn Jarir ath-Thabari (wafat 310 Hijri atau 922 Masehi) menjelaskan dalam kitab karangan beliau Tarikh Arrusul wal Muluk (Sejarah Para Rasul dan Para Penguasa).

Ketika mendapat perintah dari Allah menuju Rumah-Nya, Nabiyullah Ibrahim As pergi bersama Siti Hajar dan Nabi Isma`il As yang masih kecil dalam gendongan disertai malaikat Jibril As. Sampailah Mereka di Makkah yang pada waktu itu cuma ditumbuhi pohon akasia, balsam dan semak berduri. Baitullah saat itu tinggal dasarnya berupa lempung merah. Nabiyullah Ibrahim As membawa Hajar dan Isma`il ke Hijir (di samping Ka`bah sekarang) dan membuat tenda di sana. Lalu Ibrahim berdoa: Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku menempatkan keturunanku di lembah yang tiada tumbuhan berbuah, di samping Rumah-Mu yang suci, agar mereka tetap menegakkan shalat. Maka jadikanlah hati manusia berpaling kepada mereka, dan berilah mereka rezeki dari buah-buahan, agar mereka bersyukur (Surat Ibrahim : 37) setelah itu Malikat Jibril As berkata, : “Allah memerintahkan engkau untuk meninggalkan mereka

Setelah Nabi Ibrahim As menjelaskan bahwa sang istri harus tetap berada dilembah bakkah (mekka) dan dia harus meninggalkannya, Siti Hajar bertanya dengan nada gelisah. Mengapa suaminya meninggalkan dia dan anaknya yang masih kecil di padang pasir tak bertuan. Naluri dia sebagai seorang perempuan hanya bisa menduga bahwa ini akibat kecemburuan Siti Sarah, istri pertama suaminya yang belum juga bisa memberinya putra.

Siti Hajar mengejar suaminya Nabi Ibrahim As,  dan berteriak: “Mengapa engkau tega meninggalkan kami di sini? Bagaimana kami bisa bertahan hidup?” Nabiyullah Ibrahim As terus melangkah meninggalkan keduanya, tanpa menoleh, tanpa memperlihatkan air matanya yang meleleh. Remuk redam perasaannya terjepit antara pengabdian dan meninggalkan.

Siti Hajar masih terus mengejar sambil menggendong Nabiyullah Ismail As yang baru lahir, kali ini dia setengah menjerit, dan jeritannya menembus langit, “Apakah ini perintah Tuhanmu?” Kali ini Nabiyullah Ibrahim As, sang khalilullah, berhenti melangkah. Dunia seolah berhenti berputar. Malaikat yang menyaksikan peristiwa itu pun turut terdiam menanti jawaban Nabiyullah Ibrahim As. Butir pasir seolah terpaku kaku. Angin seolah berhenti mendesah. Pertanyaan, atau lebih tepatnya gugatan Siti Hajar membuat semua terhenyak terkesiap.

Nabi Ibrahim As membalik tubuhnya, dan berkata tegas, “Iya!”. Hajar berhenti mengejar. dia terdiam. Lantas meluncurlah kata-kata dari bibirnya, yang memgagetkan semuanya: malaikat, butir pasir dan angin. “Jikalau ini perintah dari Tuhanmu, pergilah, tinggalkan kami di sini. Jangan khawatir. Tuhan akan menjaga kami dan tidak meninggalkan kami untuk binasa.” Ibrahim pun beranjak pergi dengan derai air mata penuh syukur keikhlasan. Dilema itu punah sudah. Ini sebuah pengabdian, atas nama perintah, bukan sebuah pembiaran. Peristiwa Nabiyullah Ibrahim As dan Siti Hajar ini adalah romantisme keberkahan.

Copyright by SoganBatik.com 2016. All right reserved.. Developed by masfen.id | endif.tc