Z

Ibda' Binafsik, mulailah dari dirimu sendiri

Bismillahirrahmaanirrahiim

Konon salah satu sebab runtuhnya pemerintahan Turki Ustmani adalah dikarenakan masyarakatnya sudah apatis dengan ajaran bela negara, karena merasa tidak ada kewajiban. Biarlah diurus saja oleh raja dan pemerintahannya, toh selama ini sudah membayar pajak yang tinggi.  Ajaran – ajaran tentang moral dan ketulusan sudah banyak ditinggalkan, juga karena keteladanan dari para raja  dan bangsawan yang korup, bergelimang dalam kehidupan yang hedonis, mewah, suka menumpuk – numpuk kekayaan sebagai kebanggaan dengan cara – cara yang jauh dari nilai – nilai agama. Hingga akhirnya umat islam lemah kekuatannya dan musuh berhasil mengalahkannya.

Apatisme adalah kata serapan dari Bahasa Inggris, yaitu apathy. Kata tersebut diadaptasi dari Bahasa Yunani, yaitu apathes yang secara harfiah berarti tanpa perasaan. Sedangkan menurut AS Hornby dalam Oxford Advanced Learner’s Dictionary of Current English: apathy is an absence of simpathy or interest. Dari definisi-definisi di atas, maka dapat ditarik satu benang merah definisi apatisme, yaitu hilangnya simpati, ketertarikan, dan antusiasme terhadap suatu objek. Sementara dalam wikipedia indonesia diartikan Apathy adalah kurangnya emosi, motivasi, atau entusiasme. Apathy adalah istilah psikologikal untuk keadaan cuek atau acuh tak acuh; di mana seseorang tidak tanggap atau “cuek” terhadap aspek emosional, sosial, atau kehidupan fisik. Kemudian kita dapat artikan bahwa apatisme adalah hilangnya rasa simpati masyarakat terhadap lingkungannya. Padahal masyarakat pada hakekatnya adalah sebuah kesatuan yang saling berikatan, sesuai dengan definisi masyarakat (society) adalah sekelompok orang yang membentuk sebuah sistem, dimana sebagian besar interaksi adalah antara individu-individu yang berada dalam kelompok tersebut.

Betapa celakanya bangsa Indonesia jika semua warga negaranya menjadi Apatis dan cuek terhadap bela negara, tidak lagi mengedepankan kepentingan yang lebih mulia yaitu bersatu dan utuhnya anak bangsa dari pada memaksakan kepentingan pribadi dan golongannya.

Konon Abu Nawas mendapat mandat dari sang Raja untuk mengumpulkan derma hingga suatu hari sampailah dia di sebuah desa penghasil madu. Ia mengumpulkan warganya untuk menyumbangkan madu kepada masyarakat lain yang baru ditimpa bencana alam. Kepada warganya ia menganjurkan agar masing-masing menyumbangkan madu dalam cangkir dan supaya di waktu malam dikumpulkan di Pendopo. Di sana sudah tersedia bejana-bejana.

Mengapa di waktu malam, supaya tidak malu, sebab mungkin saja di antara anggota masyarakat itu ada yang hanya bisa menyumbangkan setengah cangkir, seperempatnya, atau bahkan kurang dari itu. Tidak soal, yang penting semuanya ikut berpartisipasi dalam kebaikan.

Abu Nawas senang sekali karena ternyata semua warganya datang dan menuangkan isi cangkir ke dalam bejana- bejana yang telah disiapkan, dan dia tidak sabar menunggu pagi. Tetapi apa yang terjadi ketika hari sudah mulai terang. Abu Nawas kaget luar biasa, karena tidak satu pun bejana itu yang berisikan madu melainkan air.

Maka dikumpulkan lagi rakyat untuk menanyakan bagaimana hal itu bisa terjadi. Masing- masing menoleh kepada yang lain, dan mengira bahwa yang membawa air itu cuma dia sendiri. Rupanya malam itu ada yang berpikir bahwa jika semua orang membawa madu, maka kalau ada seorang yang membawa air tentu tidak akan kentara. Dia lupa bahwa ada kemungkinan semua orang berpikiran seperti itu. Memang, yang terjadi adalah semua orang berpikiran demikian sehingga tidak ada setetes pun madu dalam bejana.

Itu suatu lukisan tentang tidak adanya tanggung jawab pribadi. Maka, Nabi mengatakan ibda’ binafsik (mulailah dari dirimu sendiri). Bayangkan kalau yang terjadi sebaliknya, yakni seluruh warga desa menyadari tanggung jawab mereka sebagai warga yang baik, sehingga semuanya membawakan madu yang terbaik. Maka tentu di pagi harinya
Abu Nawas akan merasa kaget. Dia minta sekadar madu, tetapi yang terkumpul madu yang kualitasnya terbaik.

 

 

Jogjakarta, 3 Agustus 2017

Copyright by SoganBatik.com 2016. All right reserved.. Developed by masfen.id | endif.tc